ALARM REYHAN
Irepia Refa Dona
Terbit di singgalang 05 Juni 2016
Langkah kaki terdengar memasuki rumah kecil yang dulu dihuni oleh Bu Meira. Bunyi itu berasal dari getaran sepasang sepatu yang berwarna hitam. Sepertinya si pemilik sepatu baru saja membelinya atau bisa jadi sepatu itu baru siap disemir. Sepatu hitam mengkilap. sepatu itu milik seorang laki-laki berusia sekitar setengah abad. Di tangannya terdapat tas berbentuk persegi dengan merk yang cukup terkenal saat ini. Sepertinya tas tersebut berisi sebuah laptop. Laki-laki itu memasuki rumah Bu Meira dengan langkah setengah tertahan.
Langkahnya terhenti
saat sampai di dekat sebuah meja yang dilengkapi kursi. Dibukanya jendela.
Pemandangan yang sama dengan tujuh tahun yang lalu. Dia meletakkan tasnya di
atas meja, tidak peduli terhadap kabut yang bersemayam di atas meja tersebut.
Matanya yang sayu menatap keluar jendela yang berada tepat di depan meja itu.
Menatap jauh. Pandangannya kosong. Seakan ingin menemukan sesuatu yang dulu
pernah ada.
Beberapa saat kemudian,
air menetes dari ujung kedua matanya. Tidak ada angin yang menyebabkan matanya
berair. Tidak ada hujan yang membasahi pipinya. Air itu dibiarkan menetes
sampai melewati bibirnya. Perlahan kepalanya direbahkan ke meja, beralaskan tas
yang di bawahnya tadi. Entah berapa lama dia berada dalam posisi seperti itu.
*****










