Bersyukur dan Berbahagia

About Me

About Me


Penikmat sastra dan staff pengajar fisika
di salah lembaga bimbingan belajar di Padang.
Bergiat di Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.
Hobby melakukan apapun asal menyenangkan.

FLP

FLP
Logo FLP

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, July 28, 2016

Cerpen Remaja "Alarm Reyhan"



ALARM REYHAN
Irepia Refa Dona
Terbit di singgalang 05 Juni 2016


Langkah kaki terdengar memasuki rumah kecil yang dulu dihuni oleh Bu Meira. Bunyi itu berasal dari getaran sepasang sepatu yang berwarna hitam. Sepertinya si pemilik sepatu baru saja membelinya atau bisa jadi sepatu itu baru siap disemir. Sepatu hitam mengkilap. sepatu itu milik seorang laki-laki berusia sekitar setengah abad. Di tangannya terdapat tas berbentuk persegi dengan merk yang cukup terkenal saat ini. Sepertinya tas tersebut berisi sebuah laptop. Laki-laki itu memasuki rumah Bu Meira dengan langkah setengah tertahan.
Langkahnya terhenti saat sampai di dekat sebuah meja yang dilengkapi kursi. Dibukanya jendela. Pemandangan yang sama dengan tujuh tahun yang lalu. Dia meletakkan tasnya di atas meja, tidak peduli terhadap kabut yang bersemayam di atas meja tersebut. Matanya yang sayu menatap keluar jendela yang berada tepat di depan meja itu. Menatap jauh. Pandangannya kosong. Seakan ingin menemukan sesuatu yang dulu pernah ada.
Beberapa saat kemudian, air menetes dari ujung kedua matanya. Tidak ada angin yang menyebabkan matanya berair. Tidak ada hujan yang membasahi pipinya. Air itu dibiarkan menetes sampai melewati bibirnya. Perlahan kepalanya direbahkan ke meja, beralaskan tas yang di bawahnya tadi. Entah berapa lama dia berada dalam posisi seperti itu.
*****