About Me

About Me


Penikmat sastra dan staff pengajar fisika
di salah lembaga bimbingan belajar di Padang.
Bergiat di Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.
Hobby melakukan apapun asal menyenangkan.

FLP

FLP
Logo FLP

Thursday, October 27, 2016

Cerpen "Angin Puting Beliung dan Mangga Arumanis"

 
Oleh : Irepia Refa Dona, Terbit di Singgalang, 09 Oktober 2016


Siang itu suhu udara panas, pengap. Di langit di atas hamparan laut terlihat awan putih menjulang tinggi, kemudian berubah menjadi awan gelap yang disertai hembusan udara dingin. Angin mulai berhembus, menggoyangkan pepohonan ke sana kemari. Hembusan angin semakin menjadi-jadi dan di ikuti hujan lebat. Terlihat di awan hitam, pusaran angin berbentuk seperti kerucut turun menuju tanah. Para warga pesisir sudah mengenali kejadian itu. Mereka menyebutnya dengan angin puting beliung.
Warga menungging ke arah datangnya angin puting beliung. Menurut mereka, cara itu mampu menghentikan angin puting beliung. Sedangkan Maisarah, salah satu warga kampung itu tetap berada di dalam rumahnya, masih terbenam dalam sujudnya. Samsul suaminya, menegadahkan tangannya meminta petunjuk pada sang pencipta alam di masjid yang berjarak tidak jauh rumahnya.

Angin puting beliung terus berjalan. Sesampainya di hamparan pasir, terlihat pasir dan sampah-sampah berterbangan. Tindakan warga tidak mampu menghentikannya. Tak berapa lama angin sampai di daratan sejajar dengan rumah Samsul. Warga terlihat panik. Karena hantaman angin itu dapat menyebabkan rumah hancur dan pohon tumbang. Seketika pohon mangga arumanis yang berada di halaman rumah Samsul tumbang dihantamnya. Warga terkejut dan memanggil-manggil Maisarah untuk keluar rumah, karena pusarannya dapat menghancurkan  area seluas 5 km. Yang dipanggil-panggil tidak keluar. Beberapa warga pergi ke masjid memberi tahu kabar duka itu kepada Samsul. Samsul mengakhiri do’anya saat didengarnya seseorang memanggil namanya. Ia berjalan tergesah-gesah saat mendengar berita yang mengejutkan itu. Kakinya terasa berat untuk dilangkahkan. Dari jauh nampak pohon mangga arumanis depan rumahnya telah tumbang. Pikirannya penuh dengan rasa penyesalan. Ia menyesal, mungkin saja musibah itu akibat dari do’anya.
*****
Rumah tua yang berada disekitar rumah-rumah mewah itu terlihat Ramai. Rumah tanpa teras, berdindingkan tembok yang belum di plester. Atap sengnya sudah mulai bocor. Membuat sinar matahari masuk di cela-cela atap yang berlubang. Di dalamnya hanya terdapat dua kamar tidur. Di ruang tamu, hanya ada kursi dari rotan dan sebuah almari kecil tempat baju semua anggota keluarga, yang dicat menggunakan aspal sisa perbaikan jalan yang diberikan karena Samsul, sipemilik rumah, membantu pekerja jalan dengan sukarela.
Berbagai bunga tumbuh di depan rumahnya yang tanpa pagar. Bunga-bunga itulah yang memberikan keindahan pada rumahnya. Tidak jauh dari halaman rumah, terdapat pohon mangga arumanis. Apabila berbuah menyebarkan aroma harum dan rasa manis disekitar halaman. Di bawah pohon mangga yang tingginya sekitar sembilan meter dan berdaun lebat itu, dibuat bangku panjang tempat anak-anak bermain. Meski rumah itu tak seindah rumah yang lain, tapi ia disukai banyak anak-anak.
Siang itu pemandangan yang berbeda dari biasanya. Biasanya di bawah pohon mangga hanya ada anak-anak yang bermain masak-masakan, terkadang main gambar, atau main kelereng sesuai musimnya. Tapi siang itu, di atas bangku panjang, juga terlihat ibu-ibu yang duduk sambil mengobrol.
Di bawah pohon mangga depan rumah Samsul memang tempat yang nyaman untuk bersantai. Angin berhembus menggoyangkan daun-daun mangga yang juga memberikan suasana sejuk di bawahnya. meski pada sore sinar matahari masih terik, tapi di bawah pohon mangga tetap teduh, karena sinar matahari dihalangi oleh daunnya yang lebat. Itulah yang membuat ibu-ibu sekitar menyukai tempat itu. Yang lama kelamaan menguasai area bermain anak-anak.
“Kenapa di sana tidak ada anak-anak ya Mas?” Maisarah istri Samsul bertanya pada suaminya yang juga berdiri di sampingnya sambil menatap ke pohon mangga. Ia menggeleng karena juga tidak mengerti dengan suasana itu sambil berkata tidak masalah, selagi mereka hanya duduk dan beristirahat di sana. Mungkin anak-anak telah menemukan tempat yang lain untuk bermain.
Sudah beberapa hari, tempat itu dihuni oleh ibu-ibu sekitar. Maisarah merasa tidak enak bila tidak pernah berkunjung dan menyapa mereka yang duduk di halaman rumahnya. Sore itu setelah selesai memasak, mandi dan shalat azhar, ia memakai jilbabnya dan berjalan menuju pohon mangga. Sebenarnya ia lebih menyukai berdiam diri di dalam rumah ketimbang mengobrol di luar. Karena menurutnya, lama-lama mengobrol akan membicarakan hal yang tidak seharusnya dibicarakan. Bisa jadi menambah dosa dan bisa jadi menimbulkan banyak masalah. Tapi sore itu ia memutuskan untuk menyapa mereka. Itu pun karena saran dari suaminya. Maisarah adalah istri yang sholehah, patuh kepada suaminya. Setiap apa yang akan dilakukan, ia selalu meminta izin suaminya.
“Eh Sarah, kami numpang duduk ya di sini. Di sini adem. Sangat asyik untuk bersantai.” Dira yang lebih tua dari Maisarah berhenti seketika, saat sedang berbicara, kemudian menyapa Maisarah cepat karena melihat sipemilik rumah menghampiri mereka. Entah apa yang mereka bicarakan. Maisarah tersenyum sambil berkata bahwa ia senang kalau mereka menyukai tempat duduk di halaman rumahnya. Tidak ada hal yang menarik yang bisa dibicarakan. Biasanya jam segini ia mengaji sambil menunggu suaminya pulang bekerja.
Ternyata benar, apabila ibu-ibu telah berkumpul, semua topik pembicaraan akan keluar. Mulai dari Joko yang bertengkar hebat dengan istrinya, Toni yang tertangkap mencuri ayam tadi malam, sampai pada Siti yang kabarnya hamil sebelum menikah.
“Pantas tadi malam ayam jantan berkokok. Ternyata ada yang melakukan perbuatan zina.” Mawar menimpali ucapan Neneng dengan bibir mencibir. Dira mengangguk-angguk membenarkan ucapan Neneng. Sedangkan Maisarah, ia terus menatap ke bawah, entah apa yang coba dipikirkannya.
“Kamu dengar tadi malamkan Sarah? Tadi malam itu bunyinya seperti dari belakang rumahmu.” Maisarah terkejut mendengar pertanyaan Neneng yang saat itu ditujukan padanya. Ia menjawab gelagapan disertai anggukan. Karena memang benar ia mendengar ayam jantan berkokok tadi malam. Ayam jantan miliknya. Tapi ia tidak bermaksud mengiyakan bahwa ayam jantan berkokok tadi malam bertanda ada yang melakukan perbuatan zina.
Malam itu selepas shalat magrib dan mengaji, Maisarah duduk di kursi rotan dekat jendela kaca rumahnya. Menatap ke luar. Malam bermandikan kesunyian. Pandangannya tak lepas-lepas menatap rumpun mangga arumanis.  Samsul yang melihatnya jadi heran, kemudian menghampirinya.
“Tidak biasanya kamu seperti ini. Apa ada yang salah?” Samsul mendekatkan kepalanya pada Maisarah sambil berbisik lembut, penuh rasa kekhawatiran. Tangannya mengelus lembut kepala Maisarah yang berkerudungkan mukena. Suara lelaki yang telah mendapinginya selama 20 tahun dan menghadiahkannya dua orang putri itu selalu menenangkannya saat mendengarkannya. Tidak kalah juga belaian lembut tangannya. Meski tangannya kasar karena mencangkul ke sawah dan bekeja di ladang, tapi bagi Maisarah, itu terasa sangat lembut, menyentuh sampai ke hulu hatinya.
“Aku takut Mas.” Maisarah memegang tangan suaminya yang mengelus kepalanya saat itu. Ia mengalihkan pandangannya dari pohon mangga arumanis ke suaminya yang berada di belakangnya. Samsul semakin heran dengan tingkah istrinya. Dalam hati ia bertanya-tanya apa yang ditakutkan istrinya. Biasanya ia sering bilang, hanya tiga yang di takutkannya: Tuhan sang pencipta alam, suaminya, dan orangtuanya. Apa ia yang membuat istrinya takut.
“Aku takut, pohon mangga itu akan menjadi sarang dosa Mas. Aku takut Allah marah Mas.” Maisarah melanjutkan ucapannya, karena melihat Samsul kebingungan. Ia juga menceritakan bahwa kemarin Aisyah putri bungsunya juga menangis mengadu padanya. Teman-temannya mengolok-oloknya. Mengatakan kalau ayahnya mungkin saja mencuri. Semua itu didengarnya dari ibu-ibu saat mengobrol di bawah pohon mangga. Bagaimana mungkin mereka bisa menguliahkan anaknya dengan pekerjaan sebagai petani. Maisarah tidak bisa lagi membendung airmatanya. Ia menangis dekat laki-laki yang selama ini menjadi tempat bersandarnya.
*****
Samsul beristiharat di pondok dekat ladangnya usai shalat Zuhur. Bekal yang di bawahnya belum juga disentuhnya sedikit pun. Biasanya siap shalat ia buru-buru makan. Tapi siang itu ia merebahkan tubuhnya di lantai papan pondoknya. Ia berbaring dengan kedua tangannya menyangga bawah kepalanya. Dan matanya yang cekung menerawang jauh menembus langit siang itu. Setelah lama berbaring ia memutuskan pulang cepat hari itu. Tidak lupa ia menghabiskan bekal yang telah disiapkan istrinya, meski perutnya tidak memiliki keinginan untuk diisi, tapi ia takut melukai hati istrinya yang telah susah payah menyiapkannya bekal.
Di bawah pohon mangga dilihatnya ibu-ibu sudah mulai mengobrol, sesekali mereka berbisik-bisik, kemudian hening saat melihat Samsul berjalan melewati mereka. Mereka tersenyum, kemudian dibalas dengan senyum dan sedikit anggukan dari Samsul. Ia menghela nafas dalam. Entah apa yang sedang bersemayam di pikirannya. Diketuknya pintu sambil mengucapkan salam. Terdengar jawaban salam dari dalam. Suara yang tidak asing lagi di telinganya. Dilihatnya istrinya buru-buru keluar dengan tubuh dibaluti mukena. Sepertinya istrinya sedang mengaji.
“Kenapa cepat sekali pulangnya Mas? Apa Mas sakit?” Maisarah buru-buru mengambil kotak bekal dan botol air minum yang dipegang Samsul sambil langsung bertanya saat melihat Samsul pulang tidak seperti jadwal biasanya. Samsul menjawabnya dengan senyum simpul di wajahnya menandakan ia baik-baik saja.ia bergegas berganti pakaian.
“Apa Mas mau saya bikinin kopi manis?” Suara Maisarah terdengar dari dapur. Samsul menjawab dengan cepat bahwa ia belum ingin minum, takut Maisarah langsung membuatkannya kopi. Ia duduk di kursi rotan. Menatap keluar. Maisarah mendekatinya. Sambil berkata kalau ia tidak ingin ke sana siang itu.
“Apa kamu ingin Mas menebang pohon mangga itu? Mas punya parang dan gergaji yang tajam.” Maisarah terdiam mendengar ucapan suaminya. Pantas tadi dia lihat suaminya membawa parang dan gergaji dari ladang. Biasanya itu ditinggal saja di ladang. Ia bingung, pohon mangga itu adalah buah-buahan satu-satunya yang ada di rumahnya. Selain bisa untuk anaknya-anaknya, kemudian dibagi sedikit ke tetangganya, ia juga bisa menjual buahnya. Karena apabila berbuah, buahnya sangat banyak sekali. Hari itu ia tidak bisa memberikan keputusan pada suaminya. Sebenarnya Samsul juga berat hati memutuskan untuk menebang pohon itu, selain alasan yang dimiliki Maisarah, ia juga merasa tidak enak sama ibu-ibu yang biasa duduk di bawah pohon mangga itu.
Hari berikunya Samsul memutuskan untuk tidak pergi ke ladang. Ia berencana akan menebang pohon mangga arumanis di depan rumahnya. Semalam ia sudah merundingkan dengan istrinya dan meminta izin pada anak-anaknya yang sangat menyukai mangga itu. Ia berjanji akan menanam kembali di ladang mereka. Anak-anaknya pun telah setuju. Tapi dalam hati Samsul masih terbesit keraguan. Ia takut ibu-ibu itu akan marah dan membenci keluarga mereka. sebelum menebangnya ia shalat zuhur berjamaah di masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Istrinya sedang shalat di rumah bersama putrinya. Habis shalat ia tidak langsung pulang. Meminta petunjuk kepada Allah, apa yang sebaiknya ia lakukan. Di rumah istrinya pun memohon petunjuk pada Allah, terbenam dalam sujudnya.
*****
Sesampainya di halaman rumah, ia terhenti melihat pohon mangga yang tumbang. Warga telah memenuhi halaman rumahnya. Dalam hatinya tumbuh setetes sinar harapan, saat melihat rumahnya masih berdiri utuh. Kemudian ia berlari ke dalam memastikan keadaan istrinya. Didapatinya istri dan anaknya sedang bangkit dari sujud dan mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya di ruang yang khusus dibuat untuk tempat shalat, tanda mengakhiri do’a. Ia merangkul istri dan anaknya yang saat itu terlihat kebingungan. Warga menatapnya dengan tatapan setengah tak percaya dengan kejadian siang itu.


Padang, Juli 2016
 


 Cerpen lainnya silakan Klik disini
Alarm Reyhan
Badai Pagi Ini
Memejamkan Mata

0 comments:

Post a Comment