About Me

About Me


Penikmat sastra dan staff pengajar fisika
di salah lembaga bimbingan belajar di Padang.
Bergiat di Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.
Hobby melakukan apapun asal menyenangkan.

FLP

FLP
Logo FLP

Wednesday, November 23, 2016

Cerpen Remaja "Kaktus yang Membusuk"




Singgalang, 30 Oktober 2016
Pagi yang terlihat mendung. Matahari muncul dengan malu-malu, enggan untuk memperlihatkan sinarnya pada pagi. Di balik pagar, di halaman rumah yang dipenuhi oleh kaktus, terlihat seorang remaja dengan seragam putih biru lengkap, menyandang tas ransel berwarna pink, memandang dengan rasa penuh kecemburuan yang terpancar dari kedua bola matanya. Kedua tangannya berpegangan erat pada pagar yang dicat berwarna biru muda itu. Kakinya yang memakai sepatu warna hitam bergerak tak karuan ke sana kemari. Jilbabnya yang terurai bergerak-gerak karena sentuhan angin pagi itu. Tidak perlu waktu lama untuk melakukan ritual paginya sebelum berangkat sekolah. Anehnya, tidak ada yang mempedulikannya. Bahkan orangtuanya sekalipun.
Brak!! Suara sesuatu pecah kembali terdengar dari dalam rumahnya. Entah itu piring, gelas, atau apapun itu. ia terlihat tidak peduli. Sesaat memang langkahnya terhenti dan menoleh ke arah rumahnya. Tapi tak berapa lama, dia kembali berjalan. Pagi itu ia harus berangkat sekolah.
Di balik gerbang rumahnya, sepulang ia sekolah, dipandangi rumahnya, lama. Rumah yang cukup mewah dibandingkan rumah-rumah yang ada di komplek Polamas. Di depan rumahnya tidak terdapat banyak bunga. Hanya beberapa bunga kaktus yang ditata acak. Bunga itu dia sendiri yang menanamnya. Pernah suatu ketika bapak tukang bakso yang saat itu berhenti di depan rumahnya bertanya, kenapa rumah sebagus ini hanya ada bunga kaktus di halamannya. Dia terdiam sejenak. Kemudian menjawabnya dengan nada datar. Awalnya dia ingin menanam bunga mawar dan bunga anggrek yang melambangkan cinta dan ketulusan, tapi sepertinya orangtuanya tidak menyukai itu. Sehingga ia putuskan untuk menanam kaktus, meski tumbuh di tempat gersang dan kering, tapi kaktus tetap bisa bertahan hidup. Bapak itu hanya diam dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, apa hubungannya menanam bunga dengan maknanya, anak-anak zaman sekarang.
dibukanya pintu rumahnya pelan sambil mengucapkan salam. Tidak terdengar jawaban salam dari dalam. Hanya sunyi yang mengisi sudut setiap ruang di rumahnya. Ia tahu, jam segini papa dan mamanya pasti sedang bekerja. Sedangkan pembantu rumah tangga, tidak ada satu pun yang betah bekerja di rumahnya. Entah apa sebabnya.
Di ruang tamu dia kembali disambut oleh pecahan yang berserakan di lantai. Ternyata bunyi pecah yang didengarnya tadi berasal dari piring yang pecah. Entah berapa piring yang pecah. Dia tidak bisa menghitungnya, karena piring itu sudah menjadi pecahan-pecahan kecil. Yang pasti itu bukan satu piring. Diambilnya sapu dan tempat sampah. Dikumpulkannya pecahan piring yang berserakan. Di sudut kedua matanya mengalir tetesan bening. Entah apa yang membuat tetesan bening itu membasahi pipinya. Ini adalah terakhir kalinya ia membersihkan pecahan pecah di ruang tamunya semenjak ia meninggalkan sepucuk surat dan pergi untuk selamanya..
*****
Saat ia kembali menatap ke rumah tetangganya, kedua tangannya yang berpengangan di pagar rumahnya dipegang oleh seorang wanita yang berusia sekitar tiga puluhan. Dia terkejut dan spontan menarik tangannya. Ditatapnya wanita itu. Matanya terbelalak  saat mengetahui kalau wanita yang di depannya adalah si pemilik rumah yang setiap hari diintipnya dari balik pagar rumahnya. Wanita itu tersenyum. Senyum yang mampu menghilangkan rasa takut di hatinya. Sejak saat itu dia sering mengobrol dengan wanita sebelah rumahnya, yang dipanggilnya Tante Meri.
“Siapa namamu, Nak?”  Dia terdiam. Baru kali ini ada orang yang mengajaknya berbicara dengan tatapan penuh kasih sayang. Kepalanya mengangguk-angguk sambil mengingat dan berkata dalam hati, pantas dia tidak melihatnya tadi. Ternyata orang yang diintipnya, sedang mengintipnya juga.
“Giza, Tante.” Ia menjawabnya pelan. Wanita itu kembali tersenyum. Sambil memuji nama Giza yang menurutnya terdengar bagus. Dia kembali bertanya, apa arti dari nama Giza. Giza menggeleng sambil melihatkan tampang kebingungannya. Kemudian dia mengajukan pertanyaan yang selama ini ingin diketahuinya, apakah saat ia mengintip ada yang melihatnya. Ternyata selama ini mereka melihatnya. Hanya saja mereka membiarkannya tanpa rasa curiga karena mungkin itu memang kebiasaannya.
*****
Siang itu, setelah membersihkan pecahan yang berserakan di lantai dan mengganti seragam sekolahnya, ia segera bergegas menuju dapur, membuka almari tempat mamanya biasa menyimpan sambal dan makanan. Didapatinya almari dalam keadaan kosong. Tidak ada sedikit pun makanan. Ia menghela nafas sambil berpikir positif, mungkin mamanya tidak sempat memasak.
Diambilnya sebutir telur. Dipecahnya. Dimasukkan ke dalam piring. Dimasukkan beberapa bawang yang telah diirisnya. Ditambah dengan sedikit garam. Saat hendak mengaduk telur, tangannya terhenti. Dilihatnya ke sekitar, entah apa yang matanya coba cari. Dia bergegas menuju halaman belakang. Matanya tertuju pada satu arah. Seperti menemukan sesuatu yang sedang dicarinya. Dia bergegas menuju halaman belakang meninggalkan telur yang akan digorengnya untuk menganjal perutnya. Lapar yang semula dirasakannya, hilang ditelan suasana siang itu.
“Mama habis bertengkar dengan papa lagi ya?” Giza mendekati mamanya yang terdengar olehnya sedang menangis. Mamanya membalikkan badan dan menghapus airmata yang membasahi pipinya. Dia memecahkan suasana hening itu dengan pertanyaan yang dia sendiri sudah tahu jawabannya. Mamanya mengangguk.
Giza jongkok di belakang mamanya. Tangannya yang kurus menopang dagunya. Pandangan matanya mencoba melawan matahari siang itu yang terasa mau membakar kulit. Tidak lagi dirasakan silau matahari yang mengenai matanya. Seingatnya tidak ada kenangan hangat, sehangat matahari siang ini yang bisa dirasakannya bersama orangtuanya. Dari apa yang ia dengar, pernikahan orangtuanya bukanlah karena keinginan mereka. Mamanya memiliki seseorang yang ia cintai dan papanya juga memiliki seseorang yang ia cintai. Setiap kali Giza ingin melihat senyum orangtuanya, ia hanya menatap foto pernikahan mereka. Senyum mengambang dari pipi keduanya. Senyum ketulusan. Dia sering bertanya-tanya sendiri, bagaimana mungkin senyum yang setulus itu bisa dibuat-buat. Saat papa menikahi mama hanya karena alasan untuk mendapatkan restu untuk melanjutkan usaha ayahnya. Dan saat mama menikahi papa, karena keinginan mamanya yang sedang sakit, ingin melihat putrinya menikah.
*****
Panas matahari membakar bumi, tiba-tiba hujan rintik-rintik turun membasahi bumi. Setetes demi setetes. Kemudian mengguyur dengan derasnya disertai petir. Tanah sepertinya bersorak akan kedatangan hujan. Matahari kali ini sepertinya kalah dengan hujan saat ini. Selama ini hanya kemarau panjang. Hanya kaktus yang bertahan hidup. Sedangkan bunga yang lainnya, seperti mawar dan anggrek hampir layu, jika saja tidak ada orang yang menyiraminya.
Di balik jendela rumahnya, Meri menatap ke pagar rumah Giza, tempat anak itu selalu berdiri mengintip keluarganya. Dalam hati dia bertanya-tanya, sedang apa anak itu di rumah. Pasti ia di rumah sendirian karena orangtuanya sedang bekerja. Selama ini tidak ada pembantu yang dilihatnya. Matanya tidak berhenti-henti menatap ke sana sambil melafalkan do’a, semoga anak itu baik-baik saja. Kemudian ia bergegas dan mengambil payung.
“Ibu mau kemana?” salah satu anaknya bertanya, saat melihatnya bersiap-siap mau pergi. Dia menjawabnya dengan lembut, bahwa ia ingin melihat anak tetangga sebelah yang mungkin sendirian di rumah. Anaknya tersenyum, menunjukkan bahwa dia mengerti. Ia menjawab salam sambil menyuruh ibunya untuk berhati-hati.
Dilihatnya pagar rumah Giza. Sepertinya tidak di kunci. Ia ragu, antara ingin masuk dengan tidak. Sejenak ia berdiri, kemudian masuk dengan langkah setengah tertahan. Diketuknya pintu sambil mengucapkan salam. Hanya hening yang dirasakannya. Tidak ada jawaban salam dari dalam. Dalam hati ia berucap, mungkin anak itu tidak di rumah. Ia berbalik ke belakang. Bunyi petir kemudian menggelegar di udara, kilat menyilaukan mata , membuat langkahnya terhenti. Sesaat terpikir olehnya, jika anak itu tidak di rumah, kenapa pintu pagar rumahnya terbuka. Ia kembali mengetuk pintu. Dicobanya membuka pintu itu, mungkin saja tidak di kunci. Pintu pun terbuka. Matanya tak berkedip sedikitpun, ia berlari gesit tanpa menghiraukan licin akibat kakinya yang basah bersentuhan dengan lantai yang licin.
Di ruang tamu sudah terletak sebuah sapu dan tong sampah yang berisi pecahan piring. Selembar foto pernikahan tergeletak di lantai. Dia sama sekali tidak menghiraukan itu. Matanya hanya tertuju pada tubuh kecil yang terbaring kaku di dekat tong sampah. Linangan airmata mengaburkan penglihatannya. Dia mendekat. Dilihatnya, sosok yang selalu berdiri menatapnya setiap pagi, kini matanya tertutup rapat.
Dia merangkul tubuh Giza yang terasa dingin. Airmata mengalir menandingi derasnya hujan siang itu. Tangannya gemetaran. Begitu juga bibirnya, yang saat itu terus berucap memangil nama Giza. Berapa kali pun dia mencoba memanggilnya, tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya yang terlihat pucat saat itu. Akhirnya dia sadar, saat ini yang bisa dipanggilnya bukan Giza, tapi orangtuanya.
*****
Meski mereka berada di bawah atap yang sama, tapi tidak ada komunikasi yang keluar dari mulut orangtua Giza. Suasana hening yang menguasai rumah mereka. Malam itu, mama Giza masuk ke kamarnya. Kamarnya bersih. Padahal dia tidak pernah membersihkan kamar anaknya. Di atas kasur terdapat boneka, tapi lebih banyak buku dan majalah. Di atas meja belajarnya terdapat pena yang masih terbuka tutupnya, beralaskan selembar kertas. Diambilnya kertas itu.
“Jika mama dan papa menemukan kertas ini, saat itu aku sedang tersenyum bahagia, karena itu berarti, mama dan papa sangat peduli padaku. Kaktus yang aku tanam mungkin akan mati. Aku salah, menganggap kaktus tanaman yang kuat. Ternyata ia bisa membusuk bila mengandung banyak air.” Airmata menetes di atas surat yang sedang dipegangnya. Ia teringat cerita Meri yang lebih mengenal anaknya dari pada dia, bahwa selama ini Giza menahan sakit sendirian. Sekujur kakinya menghitam. Menurut dokter, kakinya terkena tetanus. Mungkin saja ia pernah terluka, tapi ia tidak mengobatinya dan ia langsung bermain tanah.
“Ma, Pa, gantilah kaktus yang membusuk di  halaman rumah kita dengan bunga mawar dan anggrek, seperti tetangga kita, yang aku intip setiap pagi. Aku berharap mama dan papa bahagia. Aku sangat menyayangi mama dan papa.” Tulisan tangan itu terlihat berantakan. Tapi lebih berantakan hatinya saat ini. Bagaimana mungkin Giza mengetahui hal-hal seperti itu. Dia anak yang pintar. Dia mengetahui banyak hal, karena hari-hari yang dilaluinya hanya ditemani buku. Tiba-tiba dari belakang seseorang memeluknya dan meletakkan dagu di atas bahunya. Dirasakan sesuatu membasahi bahunya.
“Maafkan aku yang selama ini tidak bisa menjadi suami dan papa yang baik.” Suara suaminya terdengar parau. Mungkin disebabkan karena dia bicara sambil menangis. Ternyata tanpa disadari suaminya sudah berada di belakangnya. Sesaat dibiarkan tubuhnya berada dalam pelukan suaminya. Sejak lebih kurang sepuluh tahun menikah, baru kali ini ia merasakan kehangatan dan kasih yang tulus dari suaminya.
*****
Bagaikan musim semi, matahari bersinar secerah mawar merah yang sedang mekar. Dibalik pagar rumahnya, Meri mengintip sambil tersenyum melihat sapasang suami istri yang sedang sibuk menyiram mawar dan anggrek yang memenuhi halaman rumah mereka. Dalam hati ia berbisik, semoga ia bahagia disana, bermain di taman yang dipenuhi bunga, dan yang paling penting, meski disana terdapat kaktus, tapi ia tidak akan membusuk karena mengandung banyak air. Karena itu adalah tempat yang abadi, terdapat keindahan yang abadi pula, yaitu surganya Allah.

Punggasan, Juni 2016
Irepia Refa Dona

0 comments:

Post a Comment