Bersyukur dan Berbahagia

About Me

About Me


Penikmat sastra dan staff pengajar fisika
di salah lembaga bimbingan belajar di Padang.
Bergiat di Forum Lingkar Pena Sumatera Barat.
Hobby melakukan apapun asal menyenangkan.

FLP

FLP
Logo FLP

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, January 29, 2017

Kejadian dan Kejadian Lainnya


Terbit Di HALUAN Tanggal 29 Januari 2017

Sesekali terlihat perempuan yang sedari tadi duduk di bangku taman itu memetik bunga mawar merah yang sedang mekar. Sebenarnya aku ingin melarangnya merusak bunga yang ada di taman ini, tapi segera aku urungkan niatku saat melihat wajah murungnya. Aku tidak yakin apa yang akan dilakukan perempuan itu dengan setangkai bunga yang kini sudah berada di tangannya. Sesekali ia menyibak rambutnya yang diterbangkan angin sore itu.
Bukan ingin mencium aroma mawar seperti yang aku pikirkan, tapi ia malah melepaskan satu persatu kelopak bunga tersebut. Ah, selain merusak tanaman perempuan itu malah menambah sampah yang berserakan. Haruskah aku menegurnya? Tapi saat kakiku hendak melangkah, telingaku menangkap suara lembut perempuan itu.
“Datang.” Saat satu kelopak bunga lepas.
“Tidak.” Saat kelopak kedua lepas.
“Datang, tidak. Datang, tidak. Datang, tidak. Datang, tidak. Datang, tidak.” Begitu selanjutnya yang dikatakan perempuan itu sembari melepas satu persatu kelopak bunga tersebut sampai tak bersisa satu pun. Ia menghela nafas dalam. Dan aku pun menghela nafas dalam saat melihat kelopak bunga yang berserakan di bawah angin.

Thursday, January 26, 2017

Cara Mengirim Karya (Cerpen atau Puisi) Ke Media (Koran atau Majalah) Beserta Email



 Sumber. Dok. Pribadi
Sedikit berbagi. Karena akhir-akhir ini banyak teman yang bertanya tentang email media (koran dan majalah). Terus juga ada yang bertanya bagaimana cara mengirimkannya.
Sebenarnya saya tidak terlalu percaya diri menulis artikel ini. Saya rasa mereka salah tempat bertanya, karena kalau diibaratkan benda di permukaan bumi ini, pengalaman saya hanyalah sebesar debu yang menempel di dinding, mungkin. Sedikit. Tapi tidak apalah. Saya akan mencoba berbagi tentang pengalaman sebesar debu itu. Semoga saja bermanfaat.
Pengalaman itu pertama kali saya dapatkan saat bergabung di Forum Lingkar Pena Sumatera Barat (terima kasih teman-teman FLP Sumbar). Semua sudah saya rangkum dalam sebuah tulisan yang saya ikutkan lomba essai aku dan FLP. Tulisan itu berjudul Aku Memilih FLP. Dan alhamdulliah belum diizinkan untuk menang :D.
Perihal Bagaimana cara mengirimkan karya ke media, berdasarkan pengalaman saya pribadi (Jika ada yang mempunyai pengalaman lain mungkin bisa dibagi di kolom komentar)

Sunday, January 22, 2017

Perempuan Pendongeng


Terbit di Radar Bromo 22 Januari 2017

Akhirnya aku berhasil move on dari Singgalang. berhasil move on bukan berarti aku melupakan Singgalang seperti yang dilkukan orang-orang pada mantan kekasihnya :D. Tapi bagiku, karena Singgalang lah aku bisa menemukan yang baru. 

Jika diibaratkan aku sedang tersesat di hutan saat malam menjelma gelap pekat, tapi di langit masih bertaburan banyak bintang. Ada bintang-bintang yang bercahaya sangat terang, ada bintang yang bercahaya sedang, dan mungkin jika aku perhatikan dengan seksama akan ada bintang yang bercahaya redup. Salah satu bintang itulah yang membawaku keluar dari gelapnya hutan. Dan jika aku boleh katakan, bintang itulah Singgalang.

Singgalang menuntunku ke luar. Meski aku tidak yakin kemana ia akan menuntunku, tapi aku sangat berterima kasih. Soal kemana arahku setelah keluar dari hutan yang gelap itu, keputusannya ada padaku, itu adalah bagaimana aku melangkah nantinya. 

Jika diibaratkan remaja yang sedang jatuh cinta, Singgalang adalah cinta pertamaku. (:D Sedikit lebay tak apalah. Jangan katakan aku terlalu aneh. Cukup tertawa saja sendiri. Selagi aku tidak tahu kalau orang sedang menertawakanku, menurutku itu tidak masalah.)

Ya udah, selamat membaca cerpen di Radar Bromo



Perempuan Pendongeng
Oleh : Irepia Refa Dona

Kau bisa meminta dibacakan puisi setiap saat jika kau menikah dengan seorang penyair. Kau bisa  dinyanyikan lagu kapan pun jika kau menikah dengan seorang yang pandai bernyanyi. Dan kau juga bisa pergi kemana pun jika kau menikah dengan orang yang suka travelling. Bagaimana dengan Yurike? Gadis pencinta dongeng sebelum tidur. Ah, dulu betapa senangnya dia karena setiap malam suaminya selalu membacakan berbagai dongeng kepadanya sebelum dia terlelap dalam pelukan suaminya. Karena ia menikahi seorang lelaki pendongeng. Tapi ada saatnya pula ia harus mendongeng untuk dirinya sendiri.
Dulu ibunya sangat khawatir jika suatu saat dia menikah. Atau jika suatu saat ibunya meninggalkannya untuk selamanya. Siapa yang akan membacakan putrinya dongeng sebelum tidur? Yurike hanya tersenyum sambil memperolok ibunya di malam itu, kalau ibunya tidak seharusnya mencemaskan hal itu. Ibunya seharusnya mencemaskan kalau bekalnya untuk menghadap sang Pencipta masih kurang.
“Setelah kau mati, siapa yang mendongengkan anakmu? Aku yakin, ibu tidak akan ditanya malaikat perihal itu.” Ucap Yurike di suatu malam saat ibunya lagi-lagi mengkhawatirkan perihal siapa yang akan mendongengkannya. Dia memang sudah terbiasa didongengkan sebelum tidur. Bahkan sampai usianya dewasa, ia masih didongengkan ibunya. Dia seperti orang kecanduan kopi. Atau seperti orang yang kecanduan merokok setelah makan. Mungkin rokok bisa saja digantikan dengan permen oleh orang-orang. Tapi tidak dengan dongeng menurut Yurike. Tidak ada yang bisa menggantikan dongeng.
Ayahnya seringkali protes padanya saat ia menarik ibunya ke kamar. Dia sebenarnya sangat mengerti kenapa ayahnya terus-terusan protes. Bagaimana ayahnya tidak protes, jika setiap malam ia terus mengurangi jatah waktu ayahnya bersama ibunya. Ibunya selalu bersamanya sebelum ia terlelap.
Dan diusianya yang ke dua puluh tujuh tahun, kekhawatiran ibunya pun hilang saat seorang lelaki romantis, lelaki pendongeng, datang melamarnya. Ibunya langsung saja merestui mereka saat mengetahui kalau lelaki itu pandai mendongeng. Sambil tersenyum ibunya berkata, bahwa sekarang ia bisa pergi dengan tenang. Yurike tidak mengubris ucapan ibunya kala itu. menurutnya, ibunya mengatakan itu hanya karena dia terlewat senang. Tapi ternyata, ibunya memenuhi ucapannya. Dan ia pergi setelah setahun pernikahan Yurike. Pergi untuk selamanya. Selang beberapa bulan, ayahnya pun pergi menyusul ibunya. Kini hanya tinggal Yurike dengan suami pendongengnya.
*****
Setiap malam ia selalu mendengarkan dongeng suaminya. Bayi yang berada dalam perutnya pun terasa menendang-nendang saat mendengarkan dongeng setiap malam. Dia sangat yakin, kalau bayinya merasa bahagia mendengar dongeng setiap malam.
“Si kecil menendang lagi, Bang. Dia pasti terlewat senang mendengar dongeng setiap malam.”
“Bagaimana kamu tahu kalau dia senang, Dik. Jangan-jangan dia menendang petanda dia tidak suka mendengar dongeng.” Yurike terlihat sedang menggunakan otaknya. Jangan-jangan suaminya benar. Tapi sesegera mungkin ia hapus pikiran bodoh itu. Siapa pula yang tidak suka mendengarkan dongeng. Pastilah itu karena dia bahagia.
“Mari kita tanya Dewa nanti jika ia sudah besar. Aku yakin, aku pasti benar.” Dewa adalah nama bayi yang telah mereka siapkan. Menurut hasil USG, ia mengandung anak laki-laki. Karena suaminya suka memberi nama tokoh dalam dongengnya dengan nama Dewa. Jadilah ia kasih nama anaknya Dewa. Dan suaminya hanya menyetujui.
*****
Seperti yang diduga dulu, Yurike melahirkan anak laki-laki. Dan anak itu ia beri nama Dewa. Setiap malam ia selalu menidurkankannya dengan dongeng walau terkadang Dewa sering menangis saat Yurike membacakannya dongeng.
Seiring berjalannya waktu, kini Dewa telah mulai ia antarkan ke taman kanak-kanak. Setiap malam Dewa masih tetap mendengarkan dongeng Yurike. Sampai suatu ketika, saat Dewa telah menduduki bangku sekolah dasar, Dewa mengingatkan Yurike tentang keraguan suaminya saat dulu Dewa menendang-nendang dalam perutnya saat dongeng dibacakan.
“Aku ingin punya kamar sendiri, Ibu.” Di Sore yang cerah itu Dewa mendekati Yurike yang sedang menjahit celana Dewa yang robek. Ini adalah permintaan pertama Dewa.
“Baru sebesar ini kau sudah malu tidur sama ibu? Apa teman-temanmu menertawakanmu karena kamu masih tidur sama ibu?” Yurike menimpali Ucapan Dewa sambil terus memasukkan benang ke lubang penjahit.
“Tidak.”
“Terus Kenapa?” Ia menatap Dewa yang sepertinya enggan untuk mengatakan apa yang sebenarnya ingin dikatakan.
“Baiklah. Ibu akan menyiapkan kamarmu.” Terlihat raut senang di wajah Dewa.
“Sebelum kau tertidur, ibu akan ke kamarmu untuk mendongengkanmu.” Seketika raut wajah itu berubah jadi cemberut. Ia menatap Dewa dengan seksama. Hati kecilnya bertanya-tanya, Ada apa dengan ekspresi itu.
“Aku ingin punya kamar sendiri karena aku tidak mau mendengar dongeng ibu lagi. Aku benci dengan dongeng-dengeng itu ibu. Bukannya tertidur nyenyak. Dongeng-dongeng itu telah membuatku susah tidur.” Yurike mengalihkan pandangan saat ia rasakan ada cairan di ujung jarinya. Merah. Ternyata ia tidak sengaja menusuk tangannya sendiri dengan jarum yang ia gunakan untuk menjahit.
 ‘Kekhawatiran suaminya terbukti. Andai saja dia ada disini sekarang, mungkin dia akan mengatakan kalau aku salah bahwa bayi kami terlewat senang saat mendengar dongeng. Ternyata Dewa sama sekali tidak menyukai dongeng. Bagaimana pun, aku harus mengerti, setiap orang berhak memilih apa yang disukainya. Aku tidak bisa memaksa anakku menyukai dongeng hanya karena aku suka dongeng. Atau hanya karena almarhum ayahnya seorang pendongeng.’ Yurike membatin saat mengingat permintaan Dewa siang tadi.
Sorenya ia bergegas membereskan kamar baru untuk Dewa. Usai itu ia hanya bermenung di belakang rumah. Apa ia marah pada Dewa? Tidak. Ia sama sekali tidak marah. Ia bermenung karena ia hanya terpikirkan satu hal. Kepada siapa ia harus membacakan dongeng jika ia ingin mendongeng? Haruskah ia mendongeng pada dinding yang tidak akan pernah protes apakah dia akan menyukai atau tidak.
Saat sore menjelma jadi gelap, Yurike selalu mondar-mandir. Ia tahu, Dewa pasti sedang bingung melihat tingkahnya. Tapi bagaimana pun, ia harus melakukannya agar ia bisa berpikir dengan baik. Begitu menurut hati kecilnya
“Ibu sedang apa?” Suara Dewa menghentikannya saat putaran yang sudah tidak terhitung lagi.
“Ibu sedang berpikir Dewa.”
“Ibu berpikir tentang apa?
“Tentang kepada siapa ibu mendongeng nanti malam. Kau pasti tidak mau mendengarkan dongeng ibu. Jadi ibu harus mencari pendengar baru.” Dewa dengan pikiran polosnya ikut menatap ke atas layaknya orang sedang berpikir.
“Rasanya ibu mau mati bila setiap malam ibu tidak bisa membacakan dongeng yang sudah tersimpan rapi diingatan ibu.”
“Dewa tahu, Ibu.”
“Tahu apa?”
“Ibu bisa mendongeng kepada diri ibu sendiri. Bukannya ibu bisa mendengarkan dongeng ibu sendiri?” Sesaat Yurike terdiam mendengar ide Dewa. Ia mencoba berpikir dengan seksama.
“Kau benar anak pintar. Bukannya aku bisa mendongeng untuk diriku sendiri? Ah, betapa bodohnya aku tidak terpikirkan soal itu.”
Dewa hanya tersenyum saat melihat ibunya bertingkah layaknya teman sekolahnya yang sedang mendapat nilai seratus. Betapa terlihat bahagia ibunya saat ini.
Mata Yurike berbinar-binar. Satu hal yang ia pikirkan sekarang, berarti ia akan bisa membacakan sembari mendengarkan dongeng tentang perempuan dengan segala keanehannya yang dibacakan terakhir kali oleh suaminya. Itu adalah dongeng terakhir yang didengarnya dari mulut suaminya malam sebelum kecelakaan besar itu terjadi. Baginya dongeng itu seperti diciptakan khusus untuknya. Ia seperti Puti Sari yang menjadi tokoh dalam dongeng itu. Puti Sari yang selalu ingin memeriksa kebun ayahnya demi melihat penjaga kebun yang tampannya luar biasa.
Baginya dulu memang dia menyukai dongeng. Tapi semenjak mengandung Dewa, bukan dongeng suaminya yang ia sukai. Tapi bau badan suaminya saat ia berada dalam pelukannya sembari tertidur. Betapa berbantal lengan suaminya adalah hal yang diidamkan saat itu. Sehingga ia harus berpura-pura ingin dibacakan dongeng setiap malam. Agar suaminya selalu berada di sampingnya mengantarkannya sampai ia terlelap. Sama yang dilakukan Puti Sari. Dan selama ini ia tidak bisa menceritakan dongeng itu pada Dewa yang masih anak-anak.
“Baiklah, kau boleh ke kamar sekarang. Ibu juga mau masuk kamar. Sepertinya telinga ibu sudah tidak sabaran untuk mendengar dongeng.” Yurike berjalan ke kamar dengan semangat. Dan Dewa pun berjalan ke kamarnya dengan perasaan bangga. Ia bangga telah bisa memberikan ide cemerlang pada ibunya. dan yang membuatnya sangat senang, mulai malam ini, ia akan terbebas dari dongeng ibunya. Ia hanya mendengar samar suara ibunya yang sedang mendongeng untuk dirinya sendiri. Entah sampai jam berapa. Entah kapan ibunya berhenti mendongeng. Yang pasti Dewa terlelap lebih dahulu sebelum ibunya berhenti mendongeng. Dan itu dilakukannya setiap malam mulai diselimuti gelap.

Padang, Januari 2017

PENULIS
Irepia Refa Dona. Pemilik hobi membaca dan menonton ini Lahir di Muara Jambu. Anggota Forum Lingkar Pena Sumatera Barat. Cerpennya dimuat dalam antologi bersama : Mimpi Merah Hari Ke-40 (Lomba Menulis Cerpen) dan Kasam (20 Cerpen terbaik sayembara cerpen Sumatera Barat).
  
Baca Juga Alarm Reyhan
Badai Pagi Ini
 


Wednesday, January 11, 2017

RAWA MATI PARIAMAN

Buat teman yang ingin survey lokasi liburan yang menarik dan unik. Ini dia salah satunya, Rawa Mati Pariaman. Tempat ini dinamakan Rawa Mati karena pohon bakau yang berada di rawa tersebut seperti mati. Di sanalah pengunjung banyak berfoto, karena pemandangannya yang unik.
Sumber : Dok. Pribadi

 Selain menikmati pemandangan rawa mati dan berfoto. Disana juga terdapat perahu yang membawa pengunjung ke bagian tengah rawa tersebut yang merupakan tempat paling indah untuk berfoto. Perahu tidak hanya mengantarkan kita ke tempat berfoto yang cantik, tapi kita juga di bawah berkeliling Rawa Mati terlebih dahulu. Tentunya perahu tersebut tidak gratis (karena memang tidak ada yang gratis di dunia ini). Biaya perahu tidak terlalu mahal. Untuk 1 orang Rp. 15.000. satu perahu boleh 1, 2. 3 atau 4 orang. Mungkin juga bisa lebih. Jika perahu diisi 2 orang, maka akan bayar 30.000. Tapi jika perahu diisi 3 orang juga membayar 30.000. kebetulan waktu itu kami pergi bertiga. Sisi lain tempat berfoto di Rawa Mati
Sumber : Dok. Pribadi

Tempat wisata ini tidak hanya menghadirkan keindahan Rawa Mati, tapi pada sore yang menjemput senja, mata kita juga dihadiahkan pemandangan sunset yang menawan.
 Sumber. Dok. Pribadi

Ini dia penampakannya. Maksudnya fotonya. Senja, laut sebatang pohon, dan matahari yang akan meninggalkan kami yang mungkin hanya menyisakan gelap. Sayang, kami berlari sedikit terlambat, sehingga hanya mendapati matahari yang sebentar lagi terbenam di ufuk barat. 

Jika ingin liburan kesini, lokasinya berada di pantai Naras Hilir (atau orang-orang sering menyebutnya Nareh) berdekatan dengan manggung, dekat kantor DPRD Pariaman. Tidak susah-susah amat kok cari lokasinya. Waktu itu kami cuma bertanya kepada pemuda yang sedang nongkrong. Kira-kira beginilah percakapan kami. 

Qmi : Misi Bg, numpang nanya Bg,. Kantor DPRD dimana ya, Bg? 
Bg : Mau ke kantor DPRD atau mau ke belakangnya? 
Qmi : hehe.... (akhirnya ketahuan. Siapa pula yang ada di kantor DPRD hari sabtu sore)

Cara bertanya yang entahlah. Boleh ditiru, atau boleh cari cara bertanya yang lebih kreatif. 
Salam Liburan...

Wednesday, November 23, 2016

Cerpen Remaja "Kaktus yang Membusuk"




Singgalang, 30 Oktober 2016
Pagi yang terlihat mendung. Matahari muncul dengan malu-malu, enggan untuk memperlihatkan sinarnya pada pagi. Di balik pagar, di halaman rumah yang dipenuhi oleh kaktus, terlihat seorang remaja dengan seragam putih biru lengkap, menyandang tas ransel berwarna pink, memandang dengan rasa penuh kecemburuan yang terpancar dari kedua bola matanya. Kedua tangannya berpegangan erat pada pagar yang dicat berwarna biru muda itu. Kakinya yang memakai sepatu warna hitam bergerak tak karuan ke sana kemari. Jilbabnya yang terurai bergerak-gerak karena sentuhan angin pagi itu. Tidak perlu waktu lama untuk melakukan ritual paginya sebelum berangkat sekolah. Anehnya, tidak ada yang mempedulikannya. Bahkan orangtuanya sekalipun.
Brak!! Suara sesuatu pecah kembali terdengar dari dalam rumahnya. Entah itu piring, gelas, atau apapun itu. ia terlihat tidak peduli. Sesaat memang langkahnya terhenti dan menoleh ke arah rumahnya. Tapi tak berapa lama, dia kembali berjalan. Pagi itu ia harus berangkat sekolah.
Di balik gerbang rumahnya, sepulang ia sekolah, dipandangi rumahnya, lama. Rumah yang cukup mewah dibandingkan rumah-rumah yang ada di komplek Polamas. Di depan rumahnya tidak terdapat banyak bunga. Hanya beberapa bunga kaktus yang ditata acak. Bunga itu dia sendiri yang menanamnya. Pernah suatu ketika bapak tukang bakso yang saat itu berhenti di depan rumahnya bertanya, kenapa rumah sebagus ini hanya ada bunga kaktus di halamannya. Dia terdiam sejenak. Kemudian menjawabnya dengan nada datar. Awalnya dia ingin menanam bunga mawar dan bunga anggrek yang melambangkan cinta dan ketulusan, tapi sepertinya orangtuanya tidak menyukai itu. Sehingga ia putuskan untuk menanam kaktus, meski tumbuh di tempat gersang dan kering, tapi kaktus tetap bisa bertahan hidup. Bapak itu hanya diam dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, apa hubungannya menanam bunga dengan maknanya, anak-anak zaman sekarang.
dibukanya pintu rumahnya pelan sambil mengucapkan salam. Tidak terdengar jawaban salam dari dalam. Hanya sunyi yang mengisi sudut setiap ruang di rumahnya. Ia tahu, jam segini papa dan mamanya pasti sedang bekerja. Sedangkan pembantu rumah tangga, tidak ada satu pun yang betah bekerja di rumahnya. Entah apa sebabnya.
Di ruang tamu dia kembali disambut oleh pecahan yang berserakan di lantai. Ternyata bunyi pecah yang didengarnya tadi berasal dari piring yang pecah. Entah berapa piring yang pecah. Dia tidak bisa menghitungnya, karena piring itu sudah menjadi pecahan-pecahan kecil. Yang pasti itu bukan satu piring. Diambilnya sapu dan tempat sampah. Dikumpulkannya pecahan piring yang berserakan. Di sudut kedua matanya mengalir tetesan bening. Entah apa yang membuat tetesan bening itu membasahi pipinya. Ini adalah terakhir kalinya ia membersihkan pecahan pecah di ruang tamunya semenjak ia meninggalkan sepucuk surat dan pergi untuk selamanya..
*****
Saat ia kembali menatap ke rumah tetangganya, kedua tangannya yang berpengangan di pagar rumahnya dipegang oleh seorang wanita yang berusia sekitar tiga puluhan. Dia terkejut dan spontan menarik tangannya. Ditatapnya wanita itu. Matanya terbelalak  saat mengetahui kalau wanita yang di depannya adalah si pemilik rumah yang setiap hari diintipnya dari balik pagar rumahnya. Wanita itu tersenyum. Senyum yang mampu menghilangkan rasa takut di hatinya. Sejak saat itu dia sering mengobrol dengan wanita sebelah rumahnya, yang dipanggilnya Tante Meri.
“Siapa namamu, Nak?”  Dia terdiam. Baru kali ini ada orang yang mengajaknya berbicara dengan tatapan penuh kasih sayang. Kepalanya mengangguk-angguk sambil mengingat dan berkata dalam hati, pantas dia tidak melihatnya tadi. Ternyata orang yang diintipnya, sedang mengintipnya juga.
“Giza, Tante.” Ia menjawabnya pelan. Wanita itu kembali tersenyum. Sambil memuji nama Giza yang menurutnya terdengar bagus. Dia kembali bertanya, apa arti dari nama Giza. Giza menggeleng sambil melihatkan tampang kebingungannya. Kemudian dia mengajukan pertanyaan yang selama ini ingin diketahuinya, apakah saat ia mengintip ada yang melihatnya. Ternyata selama ini mereka melihatnya. Hanya saja mereka membiarkannya tanpa rasa curiga karena mungkin itu memang kebiasaannya.
*****
Siang itu, setelah membersihkan pecahan yang berserakan di lantai dan mengganti seragam sekolahnya, ia segera bergegas menuju dapur, membuka almari tempat mamanya biasa menyimpan sambal dan makanan. Didapatinya almari dalam keadaan kosong. Tidak ada sedikit pun makanan. Ia menghela nafas sambil berpikir positif, mungkin mamanya tidak sempat memasak.
Diambilnya sebutir telur. Dipecahnya. Dimasukkan ke dalam piring. Dimasukkan beberapa bawang yang telah diirisnya. Ditambah dengan sedikit garam. Saat hendak mengaduk telur, tangannya terhenti. Dilihatnya ke sekitar, entah apa yang matanya coba cari. Dia bergegas menuju halaman belakang. Matanya tertuju pada satu arah. Seperti menemukan sesuatu yang sedang dicarinya. Dia bergegas menuju halaman belakang meninggalkan telur yang akan digorengnya untuk menganjal perutnya. Lapar yang semula dirasakannya, hilang ditelan suasana siang itu.
“Mama habis bertengkar dengan papa lagi ya?” Giza mendekati mamanya yang terdengar olehnya sedang menangis. Mamanya membalikkan badan dan menghapus airmata yang membasahi pipinya. Dia memecahkan suasana hening itu dengan pertanyaan yang dia sendiri sudah tahu jawabannya. Mamanya mengangguk.
Giza jongkok di belakang mamanya. Tangannya yang kurus menopang dagunya. Pandangan matanya mencoba melawan matahari siang itu yang terasa mau membakar kulit. Tidak lagi dirasakan silau matahari yang mengenai matanya. Seingatnya tidak ada kenangan hangat, sehangat matahari siang ini yang bisa dirasakannya bersama orangtuanya. Dari apa yang ia dengar, pernikahan orangtuanya bukanlah karena keinginan mereka. Mamanya memiliki seseorang yang ia cintai dan papanya juga memiliki seseorang yang ia cintai. Setiap kali Giza ingin melihat senyum orangtuanya, ia hanya menatap foto pernikahan mereka. Senyum mengambang dari pipi keduanya. Senyum ketulusan. Dia sering bertanya-tanya sendiri, bagaimana mungkin senyum yang setulus itu bisa dibuat-buat. Saat papa menikahi mama hanya karena alasan untuk mendapatkan restu untuk melanjutkan usaha ayahnya. Dan saat mama menikahi papa, karena keinginan mamanya yang sedang sakit, ingin melihat putrinya menikah.
*****
Panas matahari membakar bumi, tiba-tiba hujan rintik-rintik turun membasahi bumi. Setetes demi setetes. Kemudian mengguyur dengan derasnya disertai petir. Tanah sepertinya bersorak akan kedatangan hujan. Matahari kali ini sepertinya kalah dengan hujan saat ini. Selama ini hanya kemarau panjang. Hanya kaktus yang bertahan hidup. Sedangkan bunga yang lainnya, seperti mawar dan anggrek hampir layu, jika saja tidak ada orang yang menyiraminya.
Di balik jendela rumahnya, Meri menatap ke pagar rumah Giza, tempat anak itu selalu berdiri mengintip keluarganya. Dalam hati dia bertanya-tanya, sedang apa anak itu di rumah. Pasti ia di rumah sendirian karena orangtuanya sedang bekerja. Selama ini tidak ada pembantu yang dilihatnya. Matanya tidak berhenti-henti menatap ke sana sambil melafalkan do’a, semoga anak itu baik-baik saja. Kemudian ia bergegas dan mengambil payung.
“Ibu mau kemana?” salah satu anaknya bertanya, saat melihatnya bersiap-siap mau pergi. Dia menjawabnya dengan lembut, bahwa ia ingin melihat anak tetangga sebelah yang mungkin sendirian di rumah. Anaknya tersenyum, menunjukkan bahwa dia mengerti. Ia menjawab salam sambil menyuruh ibunya untuk berhati-hati.
Dilihatnya pagar rumah Giza. Sepertinya tidak di kunci. Ia ragu, antara ingin masuk dengan tidak. Sejenak ia berdiri, kemudian masuk dengan langkah setengah tertahan. Diketuknya pintu sambil mengucapkan salam. Hanya hening yang dirasakannya. Tidak ada jawaban salam dari dalam. Dalam hati ia berucap, mungkin anak itu tidak di rumah. Ia berbalik ke belakang. Bunyi petir kemudian menggelegar di udara, kilat menyilaukan mata , membuat langkahnya terhenti. Sesaat terpikir olehnya, jika anak itu tidak di rumah, kenapa pintu pagar rumahnya terbuka. Ia kembali mengetuk pintu. Dicobanya membuka pintu itu, mungkin saja tidak di kunci. Pintu pun terbuka. Matanya tak berkedip sedikitpun, ia berlari gesit tanpa menghiraukan licin akibat kakinya yang basah bersentuhan dengan lantai yang licin.
Di ruang tamu sudah terletak sebuah sapu dan tong sampah yang berisi pecahan piring. Selembar foto pernikahan tergeletak di lantai. Dia sama sekali tidak menghiraukan itu. Matanya hanya tertuju pada tubuh kecil yang terbaring kaku di dekat tong sampah. Linangan airmata mengaburkan penglihatannya. Dia mendekat. Dilihatnya, sosok yang selalu berdiri menatapnya setiap pagi, kini matanya tertutup rapat.
Dia merangkul tubuh Giza yang terasa dingin. Airmata mengalir menandingi derasnya hujan siang itu. Tangannya gemetaran. Begitu juga bibirnya, yang saat itu terus berucap memangil nama Giza. Berapa kali pun dia mencoba memanggilnya, tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya yang terlihat pucat saat itu. Akhirnya dia sadar, saat ini yang bisa dipanggilnya bukan Giza, tapi orangtuanya.
*****
Meski mereka berada di bawah atap yang sama, tapi tidak ada komunikasi yang keluar dari mulut orangtua Giza. Suasana hening yang menguasai rumah mereka. Malam itu, mama Giza masuk ke kamarnya. Kamarnya bersih. Padahal dia tidak pernah membersihkan kamar anaknya. Di atas kasur terdapat boneka, tapi lebih banyak buku dan majalah. Di atas meja belajarnya terdapat pena yang masih terbuka tutupnya, beralaskan selembar kertas. Diambilnya kertas itu.
“Jika mama dan papa menemukan kertas ini, saat itu aku sedang tersenyum bahagia, karena itu berarti, mama dan papa sangat peduli padaku. Kaktus yang aku tanam mungkin akan mati. Aku salah, menganggap kaktus tanaman yang kuat. Ternyata ia bisa membusuk bila mengandung banyak air.” Airmata menetes di atas surat yang sedang dipegangnya. Ia teringat cerita Meri yang lebih mengenal anaknya dari pada dia, bahwa selama ini Giza menahan sakit sendirian. Sekujur kakinya menghitam. Menurut dokter, kakinya terkena tetanus. Mungkin saja ia pernah terluka, tapi ia tidak mengobatinya dan ia langsung bermain tanah.
“Ma, Pa, gantilah kaktus yang membusuk di  halaman rumah kita dengan bunga mawar dan anggrek, seperti tetangga kita, yang aku intip setiap pagi. Aku berharap mama dan papa bahagia. Aku sangat menyayangi mama dan papa.” Tulisan tangan itu terlihat berantakan. Tapi lebih berantakan hatinya saat ini. Bagaimana mungkin Giza mengetahui hal-hal seperti itu. Dia anak yang pintar. Dia mengetahui banyak hal, karena hari-hari yang dilaluinya hanya ditemani buku. Tiba-tiba dari belakang seseorang memeluknya dan meletakkan dagu di atas bahunya. Dirasakan sesuatu membasahi bahunya.
“Maafkan aku yang selama ini tidak bisa menjadi suami dan papa yang baik.” Suara suaminya terdengar parau. Mungkin disebabkan karena dia bicara sambil menangis. Ternyata tanpa disadari suaminya sudah berada di belakangnya. Sesaat dibiarkan tubuhnya berada dalam pelukan suaminya. Sejak lebih kurang sepuluh tahun menikah, baru kali ini ia merasakan kehangatan dan kasih yang tulus dari suaminya.
*****
Bagaikan musim semi, matahari bersinar secerah mawar merah yang sedang mekar. Dibalik pagar rumahnya, Meri mengintip sambil tersenyum melihat sapasang suami istri yang sedang sibuk menyiram mawar dan anggrek yang memenuhi halaman rumah mereka. Dalam hati ia berbisik, semoga ia bahagia disana, bermain di taman yang dipenuhi bunga, dan yang paling penting, meski disana terdapat kaktus, tapi ia tidak akan membusuk karena mengandung banyak air. Karena itu adalah tempat yang abadi, terdapat keindahan yang abadi pula, yaitu surganya Allah.

Punggasan, Juni 2016
Irepia Refa Dona

Thursday, October 27, 2016

Cerpen "Angin Puting Beliung dan Mangga Arumanis"

 
Oleh : Irepia Refa Dona, Terbit di Singgalang, 09 Oktober 2016


Siang itu suhu udara panas, pengap. Di langit di atas hamparan laut terlihat awan putih menjulang tinggi, kemudian berubah menjadi awan gelap yang disertai hembusan udara dingin. Angin mulai berhembus, menggoyangkan pepohonan ke sana kemari. Hembusan angin semakin menjadi-jadi dan di ikuti hujan lebat. Terlihat di awan hitam, pusaran angin berbentuk seperti kerucut turun menuju tanah. Para warga pesisir sudah mengenali kejadian itu. Mereka menyebutnya dengan angin puting beliung.
Warga menungging ke arah datangnya angin puting beliung. Menurut mereka, cara itu mampu menghentikan angin puting beliung. Sedangkan Maisarah, salah satu warga kampung itu tetap berada di dalam rumahnya, masih terbenam dalam sujudnya. Samsul suaminya, menegadahkan tangannya meminta petunjuk pada sang pencipta alam di masjid yang berjarak tidak jauh rumahnya.

Wednesday, October 5, 2016

5 Tahapan Tes Tulis Posisi Content Writer



Satu hari setelah memasukkan lamaran pekerjaan sebagai Content Writer, saya dapat panggilan untuk tes besoknya. Katanya tes tertulis, dan diharuskan bawa laptop.

Saya sedikit terkejut dapat panggilan itu, karena memang saya tidak memenuhi salah satu syarat yang diberikan, Yaitu : telah mempublikasikan minimal tiga artikel di koran. Tapi hal itu saya uraikan secara jujur di surat lamaran kerja saya. (So, buat teman2 yang mungkin ada salah satu syarat yang tidak bisa dipenuhi, coba aja masukkan dulu. Mana tau iseng-iseng berhadiah J. Udah nonton khan drama korea Dream High? Itu tentang syarat2 yang tidak bisa mereka penuhi saat ikut audisi. Ternyata syaratnya g’ kaku2 kali)

Sebelum menguraikan tentang bentuk tes tulis dalam mengikuti Content Writer, ada baiknya kita mengetahui dulu apa sih Content Writer itu sebenarnya? Content Writer, mungkin sebagian anda tidak asing lagi mendengar istilah itu. seorang Content Writer adalah orang yang menulis konten-konten yang relevan untuk ditampilkan di website suatu perusahaan. Tujuannya :  memberikan informasi kepada pembaca yang membuat pembaca merasa terlibat sehingga pembaca akan terbawa dengan alur dari tulisan tersebut.